Pemanfaatan Cendawan Beauveria bassiana sebagai Bioinsektisida

Sumber foto : https://images.app.goo.gl/saGsPwm5QeSQWCKC6

Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) merupakan salah satu faktor pembatas dalam peningkatan produksi pertanian. Dalam pengendalian serangan OPT tersebut seringkali dilakukan dengan menggunakan pestisida kimia sintetik. Sebagaimana telah diketahui bahwa penggunaan pestisida kimia sintetik yang tidak bijaksana dapat menimbulkan dampak negatif, antara lain terhadap kesehatan manusia serta kelestarian lingkungan hidup.  Dengan itu perlu diupayakan teknologi pengendalian yang lebih aman dan ramah terhadap lingkungan. Hal ini sesuai dengan penerapan konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT), bahwa pengendalian OPT dilaksanakan dengan mempertahankan kelestarian lingkungan, aman bagi produsen dan konsumen serta menguntungkan bagi petani. Salah satu alternatif pengendalian adalah pemanfaatan cendawan penyebab penyakit pada serangga, yaitu cendawan patogen Beauveria bassiana.

Beauveria bassiana merupakan cendawan entomopatogen yaitu cendawan yang dapat menimbulkan penyakitpada seranggaB. bassianaberasal dari kingdom Fungi, filum Ascomycota, kelas Sordariomucetes, ordo Hypocreales, famili Clavicipitaceae, dan genus Beauveria. B. bassiana  merupakan cendawan mikroskopik dengan tubuh berbentuk benang-benang halus (hifa). Hifa-hifa tersebut selanjutnya membentuk koloni yang disebut miselia. cendawan ini tidak dapat memproduksi makanannya sendiri, oleh karena itu ia bersifat parasit terhadap serangga inangnya. Cara cendawan B. bassiana menginfeksi tubuh serangga dimulai dengan kontak inang, masuk ke dalam tubuh inang, reproduksi di dalam satu atau lebih jaringan inang, kemudian kontak dan menginfeksi inang baru.

Sistem kerja dari cendawan ini yaitu spora B. bassiana masuk ketubuh serangga inang melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya. Selain itu inokulum cendawan yang menempel pada tubuh serangga inang dapat berkecambah dan berkembang membentuk tabung kecambah, kemudian masuk menembus kutikula tubuh serangga. Penembusan dilakukan secara mekanis dan atau kimiawi dengan mengeluarkan enzim atau toksin. Cendawan akan mengeluarkan racun beauverin yang membuat kerusakan jaringan tubuh serangga. Dalam hitungan hari, serangga akan mati. Setelah itu, miselia cendawan akan tumbuh ke seluruh bagian tubuh serangga. Serangga yang terserang jamur Beauveria bassiana akan mati dengan tubuh mengeras seperti mumi dan tertutup oleh benang-benang hifa berwarna putih.

Dalam infeksinya, B. bassiana akan terlihat keluar dari tubuh serangga terinfeksi, mula-mula dari bagian alat tambahan (apendages) seperti antara segmen-segmen antena, antara segmen kepala dengan toraks, antara segmen toraks dengan abdomen dan antara segmen abdomen dengan ekor. Setelah beberapa hari kemudian seluruh permukaan tubuh serangga yang terinfeksi akan ditutupi oleh massa cendawan yang berwarna putih. Penetrasi  cendawan entomopatogen sering terjadi pada membran antara kapsul kepala dengan toraks atau di antara segmen-segmen apendages demikian pula miselium jamur keluar pertama kali pada bagian-bagian tersebut. Serangga yang telah terinfeksi B. bassiana selanjutnya akan mengkontaminasi lingkungan, baik dengan cara mengeluarkan spora menembus kutikula keluar tubuh inang, maupun melalui fesesnya yang terkontaminasi. Serangga sehat kemudian akan terinfeksi. Jalur ini dinamakan transmisi horizontal patogen / inter generasi.

Beberapa keunggulan cendawan patogen serangga B. bassiana sebagai pestisida hayati / biopestisida adalah sebagai berikut  :

  1. Selektif terhadap serangga sasaran sehingga tidak membahayakan serangga lain bukan sasaran, seperti predator, parasitoid, serangga penyerbuk, dan serangga berguna lebah madu.
  2. Tidak meninggalkan residu beracun pada hasil pertanian, dalam tanah maupun pada aliran air alami.
  3. Tidak menyebabkan fitotoksin (keracunan) pada tanaman
  4. Mudah diproduksi dengan teknik sederhana.

Adapun kekurangan dari B. bassiana ini karena kisaran inangnya yang luas sehingga tidak dianjurkan untuk diaplikasikan pada tanaman yang pembungaannya dibantu oleh serangga penyerbuk. B. bassiana secara alami terdapat di dalam tanah sebagai cendawan saprofit. Pertumbuhan cendawan di dalam tanah sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, seperti kandungan bahan organik, suhu, kelembapan, kebiasaan makan serangga, adanya pestisida sintetis, dan lain-lain. Secara umum, suhu di atas 30 °C, kelembapan tanah yang berkurang dan adanya antifungal atau pestisida dapat menghambat pertumbuhan cendawan tersebut. Lebih dari 175 jenis serangga hama yang menjadi inang dari cendawan B. bassiana (Pertiwi 2014). B. bassiana ditemukan pertama kali pada ulat sutera di tahun 1912. Cendawan ini ditemukan secara luas di dunia sebagai saprofit di dalam tanah dan merupakan cendawan yang memiliki jumlah inang terbesar. B. bassiana telah dilaporkan dapat menginfeksi lebih dari 100 spesies serangga dari ordo Lepidoptera, Coleoptera, Hemiptera, Diptera dan Hymenoptera (Tanada dan Kaya 1993; Prayogo 2006), serta pada ordo Orthoptera (Thompson 2006).

Penggunaan cendawan ini untuk membasmi hama dapat dilakukan dengan beberapa metode. cendawan ini bisa dipakai untuk jebakan hama. Adapun cara penggunaanya yaitu dengan memasukkan B. bassiana beserta alat pemikat berupa aroma yang diminati serangga (feromon) ke dalam botol mineral. Serangga akan masuk ke dalam botol dan terkena spora. Akhirnya menyebabkan serangga tersebut terinfeksi. Cara aplikasi lain yaitu dengan metode penyemprotan (Indonesia Bertanam 2013).

Cara aplikasi Insektisida B. Bassiana:

  1. Ambil salah satu beras dalam plastik yang telah ditumbuhimeselium B. bassiana.
  2. Cuci dengan air 1 liter dengan cara diremas-remas sampai bersih.
  3. Saring dengan kain, ambil air cuciannya.
  4. Campurkan air tersebut dengan air 14 – 17 liter dan masukkan kedalam tangki sprayer.
  5. Semprotkan ke tanaman dengan frekuensi 1 minggu sekali. Jika serangan berat bisa seminggu 2 kali.
  6. Sebaiknya aplikasi penyemprotan pada sore hari, karena jika diaplikasikan pada siang hari maka cendawan B. bassiana akan mati kepanasan.

Saat ini terdapat pula sediaan B. bassiana siap pakai diantaranya ada yang berukuran 600 ml. Dosis pemakaian sebanyak 5 sendok makan dilarutkan dalam air 14 liter. Aplikasi dengan cara disemprot ke tanaman.

Studi Kasus Pemanfaatan dan Aplikasi B. bassiana di Indonesia

  1.  Cendawan bassiana mampu mengendalikan 80-100% hama tungau (Deciyanto dan Indrayani 2009)
  2. Suspensi konidia bassiana dengan konsentrasi 1.1 x 108 konidia/ mL air yang diaplikasikan langsung pada serangga Helopeltis antonii di laboratorium, menyebabkan kematian serangga sebesar 94 – 98%, sedangkan yang diaplikasikan pada pakan dapat menyebabkan kematian sebesar 86 – 92% (Suriati 2008).
  3. Di Jember pada tahun 2008, bassiana mampu mematikan stadium larva dan pupa predator semut rangrang Oecophylla smaragdina, tetapi tidak mampu mematikan stadium imago.
  4. Konsentrasi 108 spora/ml cendawan bassiana merupakan konsentrasi yang paling mematikan larva dan pupa predator semut rangrang. Aplikasi B. bassiana dapat digunakan untuk mengendalikan hama Helopeltis sp. pada tanaman kakao dan tidak berpengaruh negatif terhadap imago semut rangrang(Sodiq dan Martiningsia 2009).
  5. Thalib et al.(2013) melakukan penelitian di Sumatera Selatan menyatakan bahwa Aplikasi bioinsektisida formulasi padat berbahan aktif konidia B. bassiana berpengaruh terhadap mortalitas dan LT50 nimfa A. gossypii. Mortalitas nimfa A. gossypii tertinggi pada media pembawa Beras+Kompos Kering dibandingkan dengan yang ditambah dengan abu sekam, dedak, serbuk kayu dan kompos Trichoderma.
  6. Koswanudin dan Wahyono (2014) melakukan penelitian di Bogor menyatakan bahwa B. bassiana dapat digunakan sebagai bioinsektisida untuk mengendalikan hama lugens, L. oratorius, N. viridula dan R. linearis. Konsentrasi fromulasi yang efektif terhadap hama-hama tersebut adalah 10,0;15,0 dan 20,0 g/l air.
  7. Leatemia et al.(2014) melakukan penelitian di Ambon dengan hasil bioinsektisida bassiana (BbAss) strain 725 efektif terhadap larva P. xylostella pada konsentrasi 0,1% (w/v) dengan mortalitas sebesar 60,00 % pada 48 jam setelah perlakuan penetesan larva dan 76,68 % pada 72 jam setelah perlakuan penyemprotan pakan.
  8. Bioinsektisida formulasi cair bahan aktif bassiana asal substrat jagung giling+200 ml EKKU 20%+300 ml aquades dengan konsentrasi 107 spora/ml dapat mematikan nimfa wereng punngung putih (Sogatella Furcifera) sebesar 66,67% dengan nilai LT50 tercepat ialah 1,69 hari. (Herlinda et al. 2008).

LITERATUR

 

Anggarawati SH, Santoso T, dan Anwar R. 2017. Penggunaan Cendawan Entomopatogen Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin dan Lecanicillium lecanii (Zimm) Zare & Gams untuk Mengendalikan Helopeltis antonii Sign (Hemiptera: Miridae). Jurnal Silvikultur Tropika (ind). 08(3): 197-202
Deciyanto S dan Indrayani IGAA. 2009. Jamur entomopatogen Beauveria bassiana: potensi dan prospeknya dalam pengendalian hama tungau. Perspektif (Ind). 8(2): 65-73.
Herlinda S, Hartono, dan Irsan C. 2008. Efikasi Bioinsektisida Formulasi Cair Berbahan Aktif Beauveria bassiana (Bals.) Vuill. dan Metarhizium sp. pada Wereng Punggun Putih (Sogatella furcifera horv.). Seminar Nasional dan Kongres PATPI. 2018 Okt 14-16. Palembang. Palembang (IND).
Herlinda S, Mulyati SI, dan Suwandi. 2008. Jamur Entomopatogen Berformulasi Cair sebagai Bioinsektisida untuk Pengendali Wereng Coklat. Agritrop (ind). 27(3):119-126.
Herlinda S, Darmawan KA, Firmansyah, Adam T, Irsan C, dan Thalib R. 2012. Bioesai bioinsektisida Beauveria bassiana dari Sumatera Selatan terhadap kutu putih pepaya, Paracoccus marginatus Williams & Granara De Willink (Hemiptera: Pseudococcidae). Jurnal Entomologi Indonesia (ind). 9(2): 81-87. DOI: 10.5994/jei.9.2.81.
Herlinda S, Lakitan B, Sobir, Koesnandar, Suwandi, Puspitahati, Syafutri M.I, Meidalima D. 2013. Bioaktivitas Formulasi Padat Beauveria bassiana (Balsamo) Vuill. dari Tanah Rawa terhadap Nimfa Aphis gossypii (Glover). Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal “Intensifikasi Pengelolaan Lahan Suboptimal dalam Rangka Mendukung Kemandirian Pangan Nasional: 2013Sept 20-21: Palembang. Palembang (ID). hlm 619-625.
Hosang MLA, Tumewan F, Alouw JC. 2004. Efektivitas cendawan entomopatogen Metarhizium anisopliae var. anisopliae dan Beauveria bassiana terhadap hama Brontispa longissima. Prosiding simposium IV hasil penelitian tanaman perkebunan: 2004 Sept 28-30: Bogor. Bogor (ID): Pusat Penelitian dan Pe-ngembangan Perkebunan. hlm 561-568.
Indonesia bertanam. 2013. Insektisida Biologi Beauveria bassiana.https:// indonesiabertanam.com/2013/03/08/insektisida-biologi-beauveriabassiana /[diunduh tanggal 07 Mei 2019].
Koswanudin D dan Wahyono TE. 2014. Keefektifan Bioinsektisida Beauveria bassiana terhadap Hama Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens), Walang Sangit (Leptocorisa oratorius), Pengisap Polong (Zezara viridula) dan (Riptortus linearis. Prosiding Seminar Nasional Pertanian Organik: 2014 Jun 18-19: Bogor. Bogor (ID): Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian. Hlm. 415-420.
Leatemia JA, Victor G, Siahaya dan Amahoru M. 2014. Efektivitas Bioinsektisida Beauveria bassiana (bbass) strain 725 terhadap larva Plutella xylostella (Lepidoptera: Plutellidae) di Laboratorium. Jurnal Budidaya Pertanian (Ind). 10 (2): 66-70.
Pertiwi. 2014.  Manfaat Beauveria bassiana dalam Pengendalian WBC. Dinas pertanian Yogyakarta. http://distan.jogjaprov.go.id/manfaat-beauveria-bassiana-dalam-pengendalian-wbc/[diunduh tanggal 07 Mei 2019].
Sodiq M dan Martiningsia D. 2009. Pengaruh Beauveria bassiana terhadap Mortalitas Semut Rangrang Oecophylla smaragdina (F.) (Hymenoptera: Formicidae). J. Entomol (ind). 6(2): 53-59.
Suriati S. 2008. Beauveria bassiana dan Metarrhizium anisopliae bio insektisida ramah lingkungan. Warta Penelitian & Pengembangan Tanaman Industri. 14(2): 30-31.
Tantawizal, Santi M dan Prayogo Y. 2013.  Pengaruh Frekuensi dan Cara Aplikasi Cendawan Entomopatogen Beauveria bassiana terhadap Tingkat Serangan Hama Boleng pada Ubi Jalar. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Malang (ID). Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. hlm 662-668.

Yusuf S, Sihombing D, Handayati W, Nuryani W, dan Saepuloh. 2011. Uji Efektivitas Bioinsektisida Berbahan Aktif Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin terhadap Kutudaun Macrosiphoniela sanborni pada Krisan. J. Hort (Ind). 21(3): 265-273