Pengenalan Tipe Gejala dan Tanda Penyakit yang Disebabkan Oleh Bakteri dan Fitoplasma
- Hama Penyakit Tanaman, Pengetahuan Pertanian
- Juni 22, 2024
Sumber foto : https://images.app.goo.gl/saGsPwm5QeSQWCKC6
Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) merupakan salah satu faktor pembatas dalam peningkatan produksi pertanian. Dalam pengendalian serangan OPT tersebut seringkali dilakukan dengan menggunakan pestisida kimia sintetik. Sebagaimana telah diketahui bahwa penggunaan pestisida kimia sintetik yang tidak bijaksana dapat menimbulkan dampak negatif, antara lain terhadap kesehatan manusia serta kelestarian lingkungan hidup. Dengan itu perlu diupayakan teknologi pengendalian yang lebih aman dan ramah terhadap lingkungan. Hal ini sesuai dengan penerapan konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT), bahwa pengendalian OPT dilaksanakan dengan mempertahankan kelestarian lingkungan, aman bagi produsen dan konsumen serta menguntungkan bagi petani. Salah satu alternatif pengendalian adalah pemanfaatan cendawan penyebab penyakit pada serangga, yaitu cendawan patogen Beauveria bassiana.
Beauveria bassiana merupakan cendawan entomopatogen yaitu cendawan yang dapat menimbulkan penyakitpada serangga. B. bassianaberasal dari kingdom Fungi, filum Ascomycota, kelas Sordariomucetes, ordo Hypocreales, famili Clavicipitaceae, dan genus Beauveria. B. bassiana merupakan cendawan mikroskopik dengan tubuh berbentuk benang-benang halus (hifa). Hifa-hifa tersebut selanjutnya membentuk koloni yang disebut miselia. cendawan ini tidak dapat memproduksi makanannya sendiri, oleh karena itu ia bersifat parasit terhadap serangga inangnya. Cara cendawan B. bassiana menginfeksi tubuh serangga dimulai dengan kontak inang, masuk ke dalam tubuh inang, reproduksi di dalam satu atau lebih jaringan inang, kemudian kontak dan menginfeksi inang baru.
Sistem kerja dari cendawan ini yaitu spora B. bassiana masuk ketubuh serangga inang melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya. Selain itu inokulum cendawan yang menempel pada tubuh serangga inang dapat berkecambah dan berkembang membentuk tabung kecambah, kemudian masuk menembus kutikula tubuh serangga. Penembusan dilakukan secara mekanis dan atau kimiawi dengan mengeluarkan enzim atau toksin. Cendawan akan mengeluarkan racun beauverin yang membuat kerusakan jaringan tubuh serangga. Dalam hitungan hari, serangga akan mati. Setelah itu, miselia cendawan akan tumbuh ke seluruh bagian tubuh serangga. Serangga yang terserang jamur Beauveria bassiana akan mati dengan tubuh mengeras seperti mumi dan tertutup oleh benang-benang hifa berwarna putih.
Dalam infeksinya, B. bassiana akan terlihat keluar dari tubuh serangga terinfeksi, mula-mula dari bagian alat tambahan (apendages) seperti antara segmen-segmen antena, antara segmen kepala dengan toraks, antara segmen toraks dengan abdomen dan antara segmen abdomen dengan ekor. Setelah beberapa hari kemudian seluruh permukaan tubuh serangga yang terinfeksi akan ditutupi oleh massa cendawan yang berwarna putih. Penetrasi cendawan entomopatogen sering terjadi pada membran antara kapsul kepala dengan toraks atau di antara segmen-segmen apendages demikian pula miselium jamur keluar pertama kali pada bagian-bagian tersebut. Serangga yang telah terinfeksi B. bassiana selanjutnya akan mengkontaminasi lingkungan, baik dengan cara mengeluarkan spora menembus kutikula keluar tubuh inang, maupun melalui fesesnya yang terkontaminasi. Serangga sehat kemudian akan terinfeksi. Jalur ini dinamakan transmisi horizontal patogen / inter generasi.
Beberapa keunggulan cendawan patogen serangga B. bassiana sebagai pestisida hayati / biopestisida adalah sebagai berikut :
Adapun kekurangan dari B. bassiana ini karena kisaran inangnya yang luas sehingga tidak dianjurkan untuk diaplikasikan pada tanaman yang pembungaannya dibantu oleh serangga penyerbuk. B. bassiana secara alami terdapat di dalam tanah sebagai cendawan saprofit. Pertumbuhan cendawan di dalam tanah sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, seperti kandungan bahan organik, suhu, kelembapan, kebiasaan makan serangga, adanya pestisida sintetis, dan lain-lain. Secara umum, suhu di atas 30 °C, kelembapan tanah yang berkurang dan adanya antifungal atau pestisida dapat menghambat pertumbuhan cendawan tersebut. Lebih dari 175 jenis serangga hama yang menjadi inang dari cendawan B. bassiana (Pertiwi 2014). B. bassiana ditemukan pertama kali pada ulat sutera di tahun 1912. Cendawan ini ditemukan secara luas di dunia sebagai saprofit di dalam tanah dan merupakan cendawan yang memiliki jumlah inang terbesar. B. bassiana telah dilaporkan dapat menginfeksi lebih dari 100 spesies serangga dari ordo Lepidoptera, Coleoptera, Hemiptera, Diptera dan Hymenoptera (Tanada dan Kaya 1993; Prayogo 2006), serta pada ordo Orthoptera (Thompson 2006).
Penggunaan cendawan ini untuk membasmi hama dapat dilakukan dengan beberapa metode. cendawan ini bisa dipakai untuk jebakan hama. Adapun cara penggunaanya yaitu dengan memasukkan B. bassiana beserta alat pemikat berupa aroma yang diminati serangga (feromon) ke dalam botol mineral. Serangga akan masuk ke dalam botol dan terkena spora. Akhirnya menyebabkan serangga tersebut terinfeksi. Cara aplikasi lain yaitu dengan metode penyemprotan (Indonesia Bertanam 2013).
Cara aplikasi Insektisida B. Bassiana:
Saat ini terdapat pula sediaan B. bassiana siap pakai diantaranya ada yang berukuran 600 ml. Dosis pemakaian sebanyak 5 sendok makan dilarutkan dalam air 14 liter. Aplikasi dengan cara disemprot ke tanaman.
Studi Kasus Pemanfaatan dan Aplikasi B. bassiana di Indonesia
LITERATUR
Portal Agrikultur Indonesia
Jl. Raya Solo - Yogyakarta
Klaten
Jawa Tengah 57452
Wa: 62 852-9323-7076
Email: info@agropawarto.com



