MIKROORGANISME SEBAGAI PUPUK ORGANIK DAN MENJAGA KEBERLANJUTAN SISTEM PRODUKSI PERTANIAN

Pertanian adalah suatu sistem produksi yang yang didalamnya terdapat upaya untuk menjaga kesehatan tanah, ekosistem, dan manusia. Sistem produksi bergantung pada proses ekologi, keanekaragaman hayati dan siklus yang sesuai dengan kondisi lokal, daripada bergantung pada penggunaan masukan/input yang memiliki dampak merugikan bagi lingkungan. Kegiatan pertanian yang berkelanjutan tidak terlepas dari peran penting mikroorganisme dalam memperbaiki, menjaga dan meningkatkan kualitas tanah dari segi fisik, kimia dan biologi. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman akan sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, apa yang terlihat diatas tanah yaitu kondisi tanaman, dapat mewakili kondisi mikroorganisme yang berada dalam tanah. Kebutuhan nutrisi dan perlindungan tanaman dari serangan organisme pengganggu tanaman berupa hama, penyakit yang disebabkan bakteri, jamur dan virus dapat diatasi oleh mikroorganisme yang memiliki peran tertentu di dalam sistem produksi tanaman. Mikroorganisme menjadi salah satu sumber daya alam yang dapat menjadi solusi berkelanjutan atas permasalahan pada proses budidaya.

Habitat dan jumlah mikroorganisme menjadi indikator yang sangat penting dalam menentukan kualitas tanah. Hasil penelitian peran mikroorganisme telah banyak dilaporkan, beberapa diantaranya yaitu Azotobacter spp., Rhizobium spp., dan Azospirillum spp. berfungsi pada fiksasi nitrogen dan pelarutan fosfor dalam tanah pada tanaman kacang-kacangan dan serealia (Alori & Babalola, 2018; Celador-Lera et al., 2018), Azospirillum brasiliense, Pseudomonas fluorescens, Pseudomonas spp., Bacillus subtilis, dan Glomus intraradices berfungsi untuk meningkatkan ketersediaan nutrisi fosfor dan kalium pada tanaman tomat, lada, dan cabai (Jiménez-Gómez et al., 2017), bakteri pengikat nitrogen berfungsi meningkatkan fiksasi nitrogen dan hasil tanaman legum yaitu kacang polong, buncis dan kedelai (Koskey et al., 2017), Trichoderma asperellum berperan sebagai biokontrol penyakit jamur pada tanah yang disebabkan oleh Fusarium, Pythium dan Rhizoctonia pada tanaman hortikultura (Preininger et al., 2018).

Mikroorganisme mampu mempertahankan siklus agroekologi untuk memperkaya dan memperbaiki ketersediaan nutrisi tanah bagi tanaman, meningkatkan toleransi tanaman terhadap cekaman biotik dan abiotik, bio-kontrol hama dan penyakit, serta meningkatkan serapan air. Berikut merupakan peran mikroorganisme sebagai pupuk dalam pertanian menurut Mishra & Dash, 2014).

  1. Suplai unsur hara lebih seimbang sehingga membantu menjaga tanaman tetap tumbuh dengan baik.
  2. Meningkatkan aktivitas biologis tanah, yang meningkatkan pergerakan nutrisi dari sumber bahan organik dan kimia serta dekomposisi zat beracun.
  3. Meningkatkan populasi mikoriza, yang meningkatkan suplai fosfor.
  4. Memperbaiki struktur tanah, menghasilkan pertumbuhan akar yang lebih baik.
  5. Meningkatkan kandungan bahan organik tanah, sehingga meningkatkan kapasitas pertukaran hara, meningkatkan retensi air tanah, memperbaiki agregat tanah dan menjaga pH tanah.
  6. Melepaskan nutrisi secara perlahan dan berkontribusi pada penumpukan sisa nitrogen organik dan fosfor di dalam tanah dan menyediakan hara mikro.
  7. Mendorong pertumbuhan mikroorganisme dan cacing tanah yang bermanfaat.
  8. Membantu menekan penyakit dan parasit tanaman tertentu yang terbawa tanah.

Tanaman dan keberagaman mikroorganisme dalam tanah merupakan bagian dari ekosistem yang telah terbentuk secara alami. Menjaganya tetap eksis dalam tanah menjadi solusi pada sistem produksi pertanian terutama dalam penyediaan unsur hara bagi tanaman yang keberlanjutan sehingga ekosistem akan terus terjaga. Keseimbangan lingkungan, ekonomi dan sosial merupakan dimensi yang harus terjaga dalam kegiatan pertanian. Pertumbuhan dan peningkatan kesejahteraan ekonomi suatu negara tidak terlepas dari berbagai kegiatan produksi tanaman. Sistem produksi yang dibentuk harus membentuk keberagaman pendapatan yang akan diperoleh petani, biaya produksi lebih murah dengan penggunaan bahan organik, pemanfaatan sumberdaya alam secara maksimal namun tetap menjaga kelestarian serta produktifitas tanah dan membentuk kelembagaan seperti gabungan kelompok tani agar terjadi peningkatan sumber daya manusia terkait pemahaman dan kemampuan secara teknis melakukan budidaya yang sesuai prosedur.

DAFTAR PUSTAKA

Alori, E. T., & Babalola, O. O. (2018). Microbial Inoculants for Improving Crop Quality and Human Health in Africa. Frontiers in Microbiology, 9, 2213.

Celador-Lera, L., Jiménez-Gómez, A., Menéndez, E., & Rivas, R. (2018). Biofertilizers Based on Bacterial Endophytes Isolated from Cereals: Potential Solution to Enhance These Crops. In V. S. Meena (Ed.), Role of Rhizospheric Microbes in Soil (pp. 175–203). Springer Singapore.

Jiménez-Gómez, A., Celador-Lera, L., Fradejas-Bayón, M., Rivas, R., 1 Department of Microbiology and Genetics, University of Salamanca. AIMS Microbiology, 3(3), 483–501.

Koskey, G., Mburu, S. W., Awino, R., Njeru, E. M., & Maingi, J. M. (2021). Potential Use of Beneficial Microorganisms for Soil Amelioration, Phytopathogen Biocontrol, and Sustainable Crop Production in Smallholder Agroecosystems. Frontiers in Sustainable Food Systems, 5, 606308.

Preininger, C., Sauer, U., Bejarano, A., & Berninger, T. (2018). Concepts and applications of foliar spray for microbial inoculants. Applied Microbiology and Biotechnology, 102(17), 7265–7282

Mishra, D. P., & Dash, D. (2014). Rejuvenation of Biofertilizer for Sustainable Agriculture and Economic Development. Consilience: The Journal of Sustainable Development, 11(1), 41–61.